1.
Pengertian SIM dan SP
A. Pengertian
sistem informasi manajemen
Menurut
beberapa pakar dibidangnya, Pengertian
Sistem Informasi Manajemen menurut Laudon dan Laudon (2008) adalah : “Suatu
susunan komponen-komponen yang terintegrasi & bekerja secara bersama-sama
untuk mengumpulkan, memproses, menyimpan dan menyebarkan informasi untuk
mendukung pengambilan keputusan, koordinasi, control, analisis dan visualisasi
dalam sebuah organisasi”. Sedangkan menurut Davis (2009) adalah: “Suatu sistem
operasional yang melaksanakan beraneka - ragam fungsi untuk menghasilkan
keluaran yang berguna bagi pelaksana operasi dan manajemen organisasi yang
bersangkutan.”
Secara umum, Sistem
informasi manajemen adalah sebuah sistem informasi yang menyediakan untuk
pelaporan yang berorientasi manajemen berdasarkan pemrosesan transaksi dan
operasi organisasi/perusahaan. Manajemen memiliki beberapa fungsi atau peranan
dalam suatu organisasi:
a) Planning
(perencanaan)
b) Organizing
(pengelompokkan)
c) Staffing
(menyusun bagian-bagian)
d) Directing
(mengarahkan)
e) Controling
(mengendalikan)
B. Konsep Sistem Pendukung Keputusan (SPK)
Konsep Sistem Pendukung
Keputusan (SPK) / Decision Support Sistem (DSS), pertama kali
diungkapkan pada awal tahun 1970-an oleh Michael S. Scott Morton dengan
istilah Management Decision Sistem. Sistem tersebut adalah
suatu sistem yang berbasis komputer yang ditujukan untuk membantu pengambil
keputusan dengan memanfaatkan data dan model tertentu untuk memecahkan berbagai
persoalan yang tidak terstruktur.Istilah SPK mengacu pada suatu sistem yang
memanfaatkan dukungan komputer dalam proses pengambilan keputusan.
a) Menurut
Little (1970), Sistem
pendukung keputusan adalah sebuah himpunan/kumpulan prosedur berbasis model
untuk memproses data dan pertimbangan untuk membantu manajemen dalam pembuatan
keputusannya.
b) Menurut
Alter (1990), membuat definisi sistem
pendukung keputusan dengan memabandingkannya dengan sebuah sistem pemrosesan
data elektronik (PDE) /Electronic Data Processing tradisional
2. Konsep SPK dan SIM
A. Konsep Sistem
Pendukung Keputusan
A. Permasalahan Terstruktur
Masalah Terstruktur adalah masalah yang dapat di ketahui penyelesaiannya
dengan jelas dan pada umumnya terjadi berulang-ulang dan mempunyai fase
terstruktur. Masalah terstruktur mempunyai 3 tahapan yaitu intelijen, rancangan
dan pilihan.sifat-sifatnya:
a)
Berulang-ulang
b)
Rutin
c)
Mudah
di pahami
d)
Memiliki
pemecahan yang standar berdasarkan analisa kuantitatif
e)
Di
buat menurut kebiasaan, aturan, prosedur tertulis maupun tidak
f)
Sering
di otomatisasi
g)
Prosedur
untuk mengetahui solusi terbaik di ketahui
h)
Tujuan
dengan jelas terdefinisi
i)
Sistem
pendukung manajemen dapat sangat berguna
B. Masalah Tidak Terstruktur
Masalah Tidak Terstruktur adalah masalah yang tidak jelas
solusinya, jarang terjadi, proses penanganannya lebih rumit dan tidak mempunyai
fase terstruktur. Misalnya masalah yang tidak berulang atau masalah yang tidak
dapat di prediksi.
sifat-sifatnya:
sifat-sifatnya:
a)
Tidak
berulang dan jarang terjadi
b)
Tidak
ada model untuk memecahkan masalah ini
c)
Butuh
intuisi
d)
Problem
yang masih kabur dan cukup komplek
e)
Tidak
ada solusi yang langsung bisa di pakai
f)
Mengenai
masalah khusus, khas, dan tidak biasa
g)
Kebijakan
yang ada belum menjawab.
Contoh:
Sebuah keputusan akan diambil oleh
seseorang apabila ketika dalam keadaan lapar maka setiap orang mengambil
keputusan. Untuk “makan”, (Masalah
Terstruktur) contoh tersebut dapat dikatakan terstruktur karena
keputusan itu bersifat rutin, mudah difahami, memiliki prosedur yang jelas, dan
tujuan yang terdefinisi. Namun, masalah tersebut akan menjadi masalah yang
tidak tertruktur apabila pada saat orang tersebut akan mengambil keputusan “makan”,
maka makanan apa yang akan dimakan? (Masalah
Tidak terstruktur) Untuk mengetasi permasalahan tersebut,
maka orang tersebut akan mempertimbangkan berbagai faktor seperti keuangan,
tempat, waktu, dan lainnya.
SPK dapat menjadi jalan keluar
apabila digunakan untuk menyelesaikan permasalahan Tidak Terstruktur (Seperti
pada contoh dua).
B. Konsep-konsep Pokok Sistem Informasi
Manajemen
Selain kita harus
mengetahui definisi dari SIM, kita juga harus mengetahui dan memahami
konsep-konsep yang berhubungan dengan informasi, pemakaian informasi, dan nilai
informasi. Berikut adalah konsep-konsep pokok SIM.
a)
Konsep Informasi
Informasi menambahkan sesuatu pada penyajian yaitu sehubungan
dengan waktu dan mutu.
b)
Konsep Manusia sebagai
Pengolah Informasi
Kemampuan manusia sebagai
pengolah informasi menentukan keterbatasan dalam sistem informasi dan
mengesankan dasar-dasar rancangan mereka.
c)
Konsep Sistem
Karena sistem informas
manajemen adalah sebuah sistem, maka konsep sistem perlu untuk memahami dan
merancang ancangan pada pengembangan sistem informasi.
d)
Konsep Organisasi dan
Manajemen
Sistem informasi berada
di dalam sebuah organisasi dan dirancang untuk mendukung fungsi manajemen.
Informasi adalah penentu yang penting dalam bentuk keorganisasian.
e)
Konsep Pengambilan
Keputusan
Rancangan SIM bukan
hanya harus mencerminkan anacangan rasional terhadap optimasi, tetapi juga teori
keperilakuan pengambilan keputusan dalam organisasi.
f)
Konsep Nilai Informasi
Informasi mengubah keputusan, perubahan dalam nilai hasil akan
menentukan nilai informasi. Sistem informasi dalam perusahaan juga
merupakan sistem terbuka, dimana terjadi arus sumber daya dengan lingkungannya.
Dalam informasi, data input diperoleh dari lingkungan, misalnya informasi
kenaikan pajak yang diumumkan pemerintah, dan perubahan kurs mata uang. Semua
data dari luar tersebut mengalir masuk ke dalam sistem.
Oleh karena itu, sitem
informasi membantu para manajer dan pimpinan perusahaan untuk mendapatkan
gambaran mengenai perusahaan. Informasi yang didapat merupakan bahan masukan
penting bagi manajer dalam pengambilan keputusan.
3.
Model SIM dan SPK
A.
Model
Sistem Informasi
1. Model Tersentralisasi
(Terpusat)
Model ini sudah dikenal
semenjak tahun 1960-an dengan mainframe sebagai faktor utama. Mainframe adalah
komputer yang berukuran relatif besar yang ditujukan untuk menangani data yang
berukuran besar,dengan ribuan terminal untuk mengakses data dengan tanggapan
yang sangat cepat dan melibatkan jutaan transaksi. Implementasi dari arsitektur
terpusat adalah pemrosesan data yang terpusat (biasa disebut komputasi
terpusat). Semua pemrosesan data dilakukan oleh komputer yang ditempatkan
didalam suatu lokasi yag ditujukan untuk melayani semua pemakai dalam
organisasi. Kebanyakan perusahaan yang tidak mempunyai cabang menggunakan model
seperti ini.
2. Model Desentralisasi
(Tersebar/Terdistribusi)
Model desentralisasi merupakan konsep dari pemrosesan data
tersebar (atau
terdistribusi). Sistem pemrosesan data terdistribusi (atau biasa disebut sebagai komputasi tersebar) sebagai sistem yang terdiri atas sejumlah komputer yang tersebar pada berbagai lokasi yang dihubungkan dengan sarana telekomunikasi dengan masing-masing komputer mampu melakukan pemrosesan yang serupa secara mandiri, tetapi bisa saling berinteraksi dalam pertukaran data.
terdistribusi). Sistem pemrosesan data terdistribusi (atau biasa disebut sebagai komputasi tersebar) sebagai sistem yang terdiri atas sejumlah komputer yang tersebar pada berbagai lokasi yang dihubungkan dengan sarana telekomunikasi dengan masing-masing komputer mampu melakukan pemrosesan yang serupa secara mandiri, tetapi bisa saling berinteraksi dalam pertukaran data.
a. Keuntungan Sistem Pemrosesan
Data Desentralisasi (Tersebar/Terdistribusi)
1) Penghematan biaya
2) Peningkatan tanggung jawab
terhadap pengeluaran biaya
3) Peningkatan kepuasan pemakai
4) Kemudahan pencadangan ketika
terjadi musibah
b. Keuntungan Sistem Pemrosesan
Data Desentralisasi (Tersebar/Terdistribusi)
1) Memungkinkan kekacauan kontrol
terhadap sistem komputer.
2) Ketidaksesuaian dlm menyediakan
hardware & software.
3) Standardisasi bisa tak
tercapai.
1.
Model Client/Server (Pada
model ini ada sebagian yang disebut client dan ada yang disebut server.)
a. Client
1) Sembarang sistem/proses yang
melakukan sesuatu permintaan data layanan ke server.
2) Mempunyai kemampuan untuk
melakukan proses sendiri.
3) Ketika sebuah client meminta
suatu data ke server, server akan segera menanggapinya dengan memberikan data
yang diminta ke client yang bersangkutan. Setelah data diterima, client segera
melakukan pemrosesan.
b. Server
1) Sistem/proses yang menyediakan
data/layanan yang diminta oleh client
2) Secara fisik dapat berupa
komputer (mainframe, mini-komputer, workstation, ataupun PC) atau piranti yg
lain (misalnya printer)
3) Namun tidak harus berupa sistem
fisik, tetapi juga bisa berupa suatu proses, sebagai contoh adalah yang disebut
sebagai database server adalah sebuah proses di dalam komputer untuk menangani
permintaan akses basis data.
B.
Model
sistem pendukung keputusan
1.
Model
SPK menurut Turban
Representasi sistem atau masalah
berdasarkan model dapat dilakukan dengan berbagai macam tingkat abstraksi, oleh
karenanya model diklasifikasikan menjadi tiga kelompok menurut tingkat
abstraksinya, antara lain (Turban, 1998) :
a) Model
Iconik (Skala)
Sebuah model iconik, model abstraksi terkecil adalah replika
fisik sebuah sistem, biasanya pada suatu skala yang berbeda dari aslinya. Model
iconik dapat muncul pada tiga dimensi (miniatur maket), sebagaimana pesawat
terbang, mobil, jembatan, atau alur produksi. Photografi adalah jenis model
skala iconik yang lain, tetapi hanya dalam dua dimensi.
b) Model
Analog
Sebuah model yang tidak tampak mirip dengan model aslinya,
tetapi bersifat seperti sistem aslinya. Model analog lebih abstrak dari model
iconik dan merupakan perpresentasi simbolik dari realitas. Model ini biasanya
berbentuk bagan atau diagram 2 dimensi, dapat berupa model fisik, tetapi bentuk
model berbeda dari bentuk sistem nyata.
c) Model
Matematik (Quantitatif)
Kompleksitas hubungan pada banyak
sistem organisasional tidak dapat disajikan secara model icon atau model
analog, atau representasi semacam itu malah dapat menimbulkan kesulitan dan
membutuhkan banyak waktu dalam pemakaiannya. Oleh karena itu model yang tepat
dideskripsikan dengan model matematis. Sebagian besar analisis sistem pendukung
keputusan dilakukan secara numerik dengan model matematis atau model
quantitatif yang lain.
Berikut
beberapa contoh lain :
a) Bagan organisasi yang menggambarkan
hubungan struktur otoritas, dan tanggung jawab.
b) Sebuah peta dimana warna yang
berbeda menunjukkan obyek yang berbeda misalnya sungai atau pegunungan.
c) Bagan pasar modal yang menunjukkan
pergerakan harga saham.
d) Cetak biru dari sebuah mesin atau
rumah.
2. Model pendukung
keputusan menurut Kas
Penggunaan
model menurut Kas
diantaranya:
1.
Rasional
model perilaku manusia berdasarkan keyakinan bahwa
orang-orang, organisasi, dan bangsa menjalankan kalkulasi pemaksimalan nilai,
yang secara mendasar konsisten. Pendukungan keputusan yang rasional merukan
proses yang komplek. Tahapan rasional decision making proses:
a. Mengenal permasalahan.
b. Definisikan tujuan.
c. Kumpulkan data yang relevan.
d. Identifikasi alternative yang memungkinkan
(feasible).
e. Seleksi kriteria untuk pertimbangan
alternative terbaik.
f. Modelkan hubungan antara kriteria, data,
dan alternative.
g. Prediksi hasil dari semua alternative.
h. Pilih alternative terbaik.
2. Organisasional
model-model pengambilan keputusan
yang memperhitungkan karakteristik politik dan structural dari organisasi.
2. Birokrasi
Pengambilan keputusan dalam bentuk apapun yang dilakukan organisasi adalah hasil dari rutinitas
dan proses bisnis yang terasah oleh penggunaan aktif selama bertahun-tahun.
3. Keputusan
klasik (classical dision)
berpandangan bahwa manager bertindak dalam kepastian. Merupakan
model yang sangat rasional untuk pembuatan keputusan manajerial.
4. Keputusan
administrasi
menurut Herbert Simon, manager dalam pengambilan keputusan
menghadapi 3 kondisi:
a. Informasi tidak sempurna, dan tidak
lengkap.
b. Rasionalitas yang terbatas (bounded
rasionality).
c. Cepat puas (satisfice).
Dan ada 3 konsep untuk membantu manajer menempatkan
pembuatan keputusan dalam perspektif, yaitu:
a.
Rasionalitas terbatas dan memadai (bounded
rationality and satisficing)
Menekankan bahwa pembuatan keputusan harus menghadapi
kenyataan tidak memadainya informasi mengenai sifat masalah dan menyelesaikan
yang mungkin, kekurangan waktu dan uang untuk mengumpulkan informasi yang lebih
lengkap, ketidakmampuan untuk mengingat sejumlah dasar informasi, dan
batas-batas kecerdasan mereka sendiri. Yang perlu dipelajari oleh pembuatan
keputusan efektif adalah menerima yang memadai dengan gambaran sasaran
organisasi jelas terbayang dalam benak.
b. Heuristic
Orang yang tergantung pada prinsip heuristic / pedoman umum,
untuk menyederhanakan pembuatan keputuasan
c. Memutuskan
siapa yang membuat keputusan (bisa)
Model rasional tidak memberikan pedoman mengenai siapa yang
harus membuat keputusan, “siapa yang akan memutuskan?” merupakan keputusan
pertama yang harus dibuat manajer. Keputusan ini bias sangat rumit.
4.
Peranan SPK dan SIM dalam pemecahan
masalah dibidang psikologi
A.
Peranan SPK dalam pemecahan masalah
dibidang psikologi
Istilah sistem pendukung keputusan
(Decision Support System-DSS) digunakan untuk mendeskripsikan sistem yang
dirancang membantu manajer memecahkan masalah tertentu. Ide dasarnya adalah
agar manajer dan computer dapat bekerja sama untuk memecahkan masalah.
Pemecahan masalah diperoleh melalui tahapan-tahapan dasar dan menggunakan
kerangka berfikir yang umum sebagaimana berlaku dibanyak perusahaan. Dengan
mengikuti pendekatan sistem untuk menyelesaikan masalah, manajer melihat sistem
secara keseluruhan.
Perlakuan penyelesaian masalah
dikelompokkan kedalam tiga tahapan,yaitu : langkah persiapan, langkah
pendefinisian dan langkah pemecahan. Solusi masalah sistem adalah solusi yang
membuat sistem tersebut memenuhi tujuan yang paling baik, sebagaimana yang
dicerminkan dalam standar kinerja sistem. Standar dimana menggambarkan situasi
yang diinginkan (desired state), apa yang harus dicapai sistem tersebut.
Manajer juga harus memiliki informasi yang menggambarkan saat ini (current
state), apa yang dicapai sistem tersebut saat ini.
B. Peranan
Sistem Informasi Manajemen Dalam Pemecahan Masalah psikologi
Sistem Informasi Manajemen dan subsistem –
subsistem organisasinya berkontribusi pada pemecahan masalah dalam 2 cara dasar
:
a. Sumber
Daya Informasi Seorganisasi. SIM adalah suatu usaha seorganisasi untuk
menyediakan informasi pemecahan masalah. Sistem tersebut merupakan suatu
komitmen formal dari para eksekutif untuk menyediakan komputer bagi semua
manajer.
b.
Identifikasi dan Pemahaman Masalah. Ide
utama dibalik SIM adalah menjaga agar pasokan informasi terus mengalir ke
manajer. Manajer menggunakan SIM terutama untuk menandai masalah atau
mendekati masalah, kemudian memahaminya dengan menentukan lokasi
dan penyebabnya.
REFERENSI



Tidak ada komentar:
Posting Komentar